Panduan Teknis Cara Budidaya Belut

Panduan Teknis Cara Budidaya Belut

Posted on

 

Cara Budidaya Belut – Belut merupakan salah satu komoditi perikanan yang cukup prosfektif untuk dibudidayakan. Meskipun tidak setinggi komoditi lainnya, permintaan pasar ikan belut tergolong cukup tinggi dan stabil terutama untuk pasar ekspor. Tidak hanya itu, harga jual ikan belut juga cenderung jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual ikan – ikan lainnya.

Nah, jika Anda tertarik untuk memulai usaha budidaya belut, berikut ini merupakan sedikit panduan teknis cara budidaya belut yang dapat Anda jadikan sebagai pedoman :

Pemilihan Bibit

Kualitas bibit akan sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan usaha budidaya belut yang dilakukan. Bibit belut yang baik biasanya memiliki ciri – ciri : lincah, tidak cacat, berukuran seragam, dan bebas dari penyakit.

Panduan Teknis Cara Budidaya Belut

Bibit belut biasanya didapatkan dari dua cara yaitu melalui penangkapan di alam dan melalui hasil budidaya. Kedua bibit belut ini memiliki keunggulan dan kekurangan masing – masing. Bibit belut hasil tangkapan biasanya memiliki rasa yang lebih gurih namun ukurannya cenderung tidak seragam dan jumlahnya sangat terbatas, sedangkan bibit belut hasil budidaya biasanya rasanya tidak begitu gurih, namun ukurannya cenderung lebih seragam dan tersedia dalam jumlah besar.

Persiapan Kolam

Belut pada dasarnya hidup di lumpur. Oleh karena itu, kondisi kolam yang akan digunakan untuk memelihara belut juga haur berlumpur. Untuk membuat lumpur di dasaran kolam, Anda dapat menggunakan campuran dari beberapa bahan baku seperti lumpur sawah, pupuk kandang, sekam padi, dedak, pelepah pisang, dan mikroba dekomposer.

Penebaran Bibit

Langkah teknis cara budidaya belut yang selanjutnya adalah penebaran bibit. Setelah bibit didapatkan dan kolam siap untuk digunakan, maka bibit dapat langsung ditebar ke dalam kolam. Tingkat kepadatan tebar belut yang biasanya digunakan adalah sekitar 50 hingga 100 ekor per m3 kolam.

Pemberian Pakan

Belut biasanya diberi pakan sebanyak kurang lebih 5 hingga 20% dari total bobot hidupnya. Persentase pemberian pakan biasanya ditingkatkan seiring dengan pertambahan umur belut. Peningkatan persentase penambahan pakan biasanya dilakukan sebesar 5 % setiap bulannya.

Ikan belut dapat diberi dua jenis pakan yaitu pakan hidup dan pakan mati. Beberapa pakan hidup yang biasa diberikan untuk belut yang masih kecil yaitu cacing, kutu air, kecebong, larva ikan, zooplankton. Untuk belut yang sudah dewasa, pakan hidup yang dapat diberikan yaitu ikan, kepiting, belatung, keong, katak, dll. Frekuensi pemberian pakan hidup biasanya dilakukan sebanyak 3 kali setiap harinya yaitu di sore, malam, dan pagi hari sebelum matahari terbit.

Untuk pakan mati, belut dapat diberikan bangkai ayam, cincangan kepiting, cincangan ikan rucah, cincangan bekicot, ataupun pelet (harus yang mengandung protein tinggi). Frekuensi pemberian pakan mati biasanya dilakukan sebanyak 2 kali setiap harinya yaitu di sore dan malam hari.

Pemanenan

Hingga saat ini tidak ada patokan pasti mengenai ukuran panen ikan belut. Konsumen dalam negeri biasanya cenderung lebih menyukai belut berukuran kecil, sedangkan konsumen luar negeri cenderung lebih menyukai belut berukuran besar. Jika target pasar yang dituju adalah konsumen dalam negeri, maka belut sudah layak untuk dipanen pada usia 3 hingga 4 bulan, sedangkan jika target pasar yang dituju adalah pasar ekspor, maka belut sebaiknya baru dipanen setelah berusia kurang lebih 5 hingga 7 bulan.

Itulah panduan teknis cara budidaya belut yang dapat Anda jadikan sebagai panduan dalam memulai usaha budidaya ikan belut. Semoga bermanfaat ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *